Sunday, September 23, 2007

Karena Saya Merindukannya

Hari minggu setelah sahur dan sholat subuh, saya atau lebih tepatnya kami sekeluarga (maksudnya bukan saya yang sudah berkeluarga ya’, tapi saya beserta orangtua dan anggota keluarga lainnya) melakukan kegiatan yang sebenarnya sudah lama tidak kami lakukan bersama-sama. Yup, pada hari itu saya merasakan kembali nikmatnya melakukan tilawah Qur’an bersama-sama. Lalu apa istimewanya?? Sangat istimewa menurut saya. Sekilas memang tidak ada bedanya dengan tilawah-tilawah yang biasa saya lakukan sehari-hari dikampus atau dimana pun itu, apalagi sekarang bulan Ramadhan yang sejujurnya saya lagi semangat-semangatnya untuk mengkhatamkan Al-Quran beberapa kali. Bedanya kali ini saya lakukan bersama-sama dengan anggota keluarga. Namun justru disitulah istimewanya, jika diingat-ingat sebelumnya tidak terasa sudah hampir setahun kami tidak berkumpul untuk melakukan tilawah bareng tersebut. Alasannya sederhana masing-masing anggota keluarga sibuk dengan jadwal kegiatannya masing-masing.

Setelah berpikir sesaat, ternyata saya menyadari bahwa waktu yang saya sisihkan bersama keluarga sangatlah minim. Yah mungkin seperti yang pembaca ketahui, jadwal kuliah saya penuh sampai Jum’at dan berada di kost selama 5 hari tersebut. Pulang ke rumah Jum’at malam, itupun biasanya setelah sampai rumah hanya mengobrol sebentar dan kemudian langsung tidur karena memang sudah waktunya tidur. Hehehe.. Sabtunya, tidak sepenuhnya saya berada di rumah ada banyak agenda rutin yang biasa saya lakukan dan biasanya baru pulang jam 9 malam. Jadi baru hari minggu waktu untuk keluarga. Sayangnya tidak setiap minggu juga anggota keluarga kami semuanya berkumpul. Terkadang ibu saya pergi dinas keluar kota, kakak saya yang tetap berada di kostan, dan masih banyak hal lainnya.

Saya merindukan masa-masa ini, masa dimana semua anggota berkumpul dan melakukan sesuatu yang berarti manfaatnya. Alhamdulillah tilawah bareng satu keluarga kemarin sedikit mengobati kerinduan saya itu. Tidak banyak memang, kami hanya sempat membaca satu juz Al-Quran waktu itu. Alhamdulillah walaupun hanya sekitar satu setengah jam kami tilawah, kami masih diberi kesempatan untuk melakukannya karena siang harinya kedua orang tua saya ada urusan di Cirebon dan berangkat jam 10 via kereta. Subhanallah, begitu berharga dan nikmatnya waktu luang bersama keluarga itu. Waktu-waktu seperti itulah yang selalu saya rindukan. Ya’!? saya merindukannya karena Allah. Jadi terjawab deh kenapa itu begitu istimewa buat saya? Jawabannya karena sudah lama saya merindukannya. Hehehe….

Move to another topic, ngomong-ngomong sekarang ini sudah hari ke 10 di bulan Ramadhan yang artinya sudah 1/3 bulan yang terlewati. Sudah menjadi kebiasaan dari tahun-tahun sebelumnya, saya biasa melakukan evaluasi ibadah Ramadhan tiap 10 hari. Hasil evaluasinya, Alhamdulillah masih di dalam jalur target yang saya tetapkan di awal Ramadhan. Hmm..bagi yang sudah baca postingan sebelumnya, mungkin sudah tahu klo saya membawa misi balas dendam di ramadhan tahun ini. Saya berniat membalas kekurangan-kekurangan saya di Ramadhan tahun kemarin. Ya Allah, semoga hambamu ini tetap meluruskan niat ibadah Ramadhannya ini hanya karenaMu.

Wassalam…

BuBaR EtNiZ, Don't Miss It....

Selasa, 25 September 2007..

Akan ada acara buka puasa bareng khusus untuk anak-anak Etniz yang berkuliah di wilayah Depok dan sekitarnya...

Tempatnya di KanTek (kantin Fakultas Teknik UI). Kumpul jam 17.00 OnTime..
telat bayarin makanan satu angkatan..hehehe (boonk dink)

Acaranya :
- Buka Puasa Bersama
- Update Database anak Etniz
- Ngomongin apaa gituu..


Cp: Dyah (FKM UI)
Dodi (T.Sipil UI)

Wednesday, September 12, 2007

Ramadhan Returns

Wah, Alhamdulillah tanpa terasa ternyata sudah masuk bulan Ramadhan, bulan dimana umat muslim di seluruh dunia menyambutnya dengan luar biasa meriah. Lah bagaimana tidak meriah wong Ramadhan itu sendiri bisa kita jadikan sebagai kejuaraan akbar dimana semua orang berlomba-lomba dalam menjalankan ibadah untuk mendapatkan pahala. Lain lagi ceritanya jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang orang yang menganggap Ramadhan sebagai ajang Obral besar-besaran. Ibarat sebuah took yang mengobral harga barangnya,di bulan Ramadhan ini terjadi obral besar-besaran pahala. Jika di toko yang mengobral barang dagangannya itu kita membeli 1 bisa dapat 3, maka di Ramadhan ini amalan satu ibadah yang kita kerjakan senilai dengan beberapa kali lipat dari amalan yang kita kerjakan di bulan-bulan biasanya. Terlebih lagi, terdapat satu “Door Prize” Lailatul Qadar dalam Ramadhan ini dimana yang beruntung dan berusaha keraslah yang akan mendapatkannya.

Nah mumpung masih awal-awal, saya ingin mengajak para pembaca untuk mengejar bersama amalan-amalan ibadah di Bulan Ramadhan ini. Mentari Ramadhan akan segera terbit dengan sinar terang penuh ampunan dan berkah. Mari hiasi detik-detik diri dengan amal yang lebih baik dari sebelumnya.

Terakhir, Jadikan Ramadhan ini menjadi momen terbaik untuk memperbaiki diri menuju pribadi muslim sejati. Sambut Ramadhan dengan hati yang bersih. Mohon maaf atas segala khilaf.

“Selamat menunaikan ibadah puasa”

Friday, September 07, 2007

Seberapa Ketagihan NgeBlog-kah Kamu??

Setelah membaca artikel yang ditulis Ilman, di blognya yang berjudul Seberapa Ketagihan Ngeblognyakah Dirimu?? Jadi pengen ikutan jugha untuk mengetes diri untuk menjawab pertanyaan serupa…hehehe…

Coba buka http://mingle2.com/blog-addiction, website ini untuk mengukur seberapa ketagihannya diri kita dalam ngeblog.

Hasil pengukuran untuk saya sendiri adalah sebagai berikut ini :



70%How Addicted to Blogging Are You?

Yah, lumayan lah 70%, untungnya ga’ lebih dari 80 %, bisa bahaya jugha nih klo ketagihan. Hehehe…

Berminat, langsung aja klik di sini..

Tuesday, September 04, 2007

Ketika Rasa Syukur Menemani Hari-mu

Hmmm...Tulisan pertama saya di LemTaqwa (sebuah buletin kampus)...


“AHLAN WA SAHLAN PEJUANG MUDA FASILKOM UI 2007”. Demikian kalimat penyambutan yang tertulis pada sebuah spanduk yang ditujukan kepada Mahasiswa Baru atau biasa kita dengar dengan istilah Maba. Momen seperti ini memang sudah menjadi agenda rutin tahunan sekaligus menjadi tanda bahwa masa perkuliahan akan segera datang. Perasaan haru, bangga, bahagia, atau bahkan kecewa dari setiap orang turut mewarnai momen ini. Bagi Maba, sebagian mungkin merasa bangga karena kerja keras dan doanya selama di SMA membuahkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkannya, sedangkan sebagian lainnya mungkin merasa kecewa karena dia diterima di Fakultas yang bukan pilihan pertamanya. Perasaan seperti itu pun berlaku untuk mahasiswa lama yang sudah lebih dahulu “berjuang” di Fasilkom. Sebagian merasa gembira sekaligus bangga karena berhasil melewati semester genap dengan lancar, lulus dengan predikat sangat memuaskan, dan masih banyak alasan lainnya. Namun sebagian lainnya merasa kecewa karena mungkin nilai yang kurang memuaskan atau merasa kehilangan waktu liburan karena disibukkan oleh beraneka ragam kegiatan di kampus.

Satu pertanyaan yang patut kita pertanyakan adalah “Sudahkah kita bersyukur atas apa yang kita dapatkan sampai saat ini??”. Mungkin pertanyaan tersebut terdengar sangat sederhana namun sangat besar makna yang terkandung dibaliknya. Bersyukur bisa berarti mengingat setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Allah telah melipatkan nikmat-Nya untuk kita dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki. Seperti yang Allah firmankan dalam surat Ibrahim “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya” (QS.Ibrahim:34). Diterimanya di universitas favorit, memiliki Indeks Prestasi yang memuaskan, memiliki kesehatan badan untuk menghadapi awal kuliah, bertemu kembali dengan sahabat seperjuangan, itu semua adalah nikmat pemberian Allah yang terkadang kita anggap sepele.

Secara teori bersyukur memang sederhana dan mudah melakukannya, namun pada kenyataannya mewujudkan rasa syukur itu sangatlah sulit karena selain sebagian besar dari kita cenderung lebih memikirkan apa yang kita dapatkan ketimbang berpikir darimana kita mendapatkan dan siapa yang memberikannya, bersyukur juga membutuhkan keikhlasan dalam penerapannya.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan?? Bagaimana cara kita bersyukur sedangkan kita sendiri dalam keadaan kecewa, baik itu karena tidak mendapatkan pilihan program studi pertama bagi Maba, ataupun karena keadaan kuliah kita anggap tidak begitu baik?? Saudaraku, begitu banyak obyek yang bisa kita jadikan alasan untuk bersyukur, karena apa yang kita alami dari detik awal sampai detik akhir kehidupan kita nanti adalah pemberian Allah yang sudah sepantasnya kita syukuri (atau bahkan sebenarnya wajib).

Coba deh kita renungi dahulu sejenak, apakah yang tidak kita dapatkan itu melebihi apa yang telah Allah berikan kepada kita?? Selalu berpikir positif adalah kuncinya. Lebih bijak jika kita mencari-cari dahulu kemungkinan-kemungkinan positif yang Allah rencanakan untuk kita. Sangat mungkin jika apa yang kita dapatkan sekarang adalah sesuatu yang sebenarnya terbaik untuk kita. Bisa juga kita merefleksikan diri apakah usaha dan doa kita sudah cukup untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, karena mungkin ada orang lain yang telah berusaha dan berdoa lebih keras dari kita dan mendapatkan apa yang sebenarnya kita inginkan. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs.Al-Baqarah:216). Akan lebih baik jika kita mencari 1001 alasan untuk bersyukur terlebih dahulu sebelum kita memutuskan untuk tidak mengungkapkan rasa syukur akibat kekecewaan tersebut. Terkadang, penyesalan dan kekecewaan itu bisa membunuh rasa syukur loh..

Eits,,tapi jangan salah mengartikan mensyukuri nikmat dalam kondisi yang menurut kita mengecewakan itu sebagai wujud pasrah dan menyerah untuk mendapatkan hal yang kita inginkan ya!? Memiliki sebuah harapan dan impian sangatlah indah, karena mungkin juga kan, kalau kita berusaha sedikit lebih keras kita masih bisa mendapatkan impian kita itu. Tapi yang terpenting, “Jangan khawatir dengan apa yang belum kita dapatkan, namun khawatirkan apa yang sudah kita dapatkan namun belum sempat kita syukuri”. Jadi, apa lagi yang kita tunggu?? Mari kita bersyukur atas semua yang Allah berikan sampai detik ini, lalu memulai yang baru dengan Basmallah....