Monday, August 07, 2006

Mengelola Ketidak Sempurnaan

Apa lagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia terbagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi Muhammad saw? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan hati setelah ia direbut Utsman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi setelah ia direbut habis oleh Aisyah?
Kita hanya berbagi pada sedikit yang tersisa dari pesona jiwa ragayang telah direguk habis oleh para nabi dan orang shalih terdahulu.Karena itu persoalan cinta kita selalu permanen begitu: jarang sekalipesona jiwa raga menyatu secara utuh dan sempurna dalam diri kita.Pilihan-pilihan kita, dengan begitu, selalu sulit. Ada lelaki gantengatau perempuan cantikyang kurang berbudi. Sebaliknya, ada lelaki salehyang tidak menawan atau perempuan salehah yang tidak cantik. Pesonakita selalu tunggal. Padahal cinta membutuhkan dua kaki untuk bisaberdiri dan berjalan dalam waktu yang lama. Maka tentang pesona fisikitu Imam Ghazali mengatakan: "Pilihlah istri yang cantik agar kamutidak bosan." Tapi tentang pesona jiwa itu Rasulullah saw bersabda:"Tapi pilihlah calon istri yang taat beragama niscaya kamu pastiberuntung." Persoalan kita adaiah ketidaksempurnaan. Seperti ketika duniamenyaksikan tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Duasetengah milyar manusia menyaksikan pemakamannya di televisi. Semuasedih. Semua menangis. Puteri yang pernah menjadi trendsetterkecantikan dunia dekade 80-an itu rasanya terlalu cantik untukdisia-siakan oleh sang pangeran. Apalagi Camila Parker yang menjadikekasih gelap sang pangeran saat itu, secara fisik sangat tidaksebanding dengan Diana. Tapi tidak ada yang secara objektif maubertanya ketika itu. Kenapa akhirnya Charles lebih memilih Camila,perempuan sederhana, tidak bisa dibilang cantik, dan lebih tua,ketimbang Diana, gadis cantik berwajah boneka itu? Jawaban Charlesmungkin memang terlalu sederhana. Tapi itu fakta, "Karena saya lebihbisa bicara dengan Camila." Kekuatan budi memang bertahan lebih lama. Tapi pesona fisik justruterkembang di tahun-tahun awal pernikahan. Karena itu ia menentukan.Begitu masa uji cinta selesai, biasanya lima sampai sepuluh tahun,kekuatan budi akhirnya yang menentukan sukses tidaknya sebuah hubunganjangka panjang. Dampak gelombang magnetik fisik berkurang atau hilangbersama waktu. Bukan karena kencantikan atau ketampanan berkurang.Yang berkurang adaiah pengar-uhnya. Itu akibat sentuhan terusmenerusyang mengurangi kesadaran emosi tentang gelombang magnetiktersebut.Apa yang harus kita lakukan adalah mengelola ketidaksempurnaan melaluiproses pembelajaran. Belajar adaiah proses berubah secara konstanuntuk menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu. Fisikmungkin tidak bisa dirubah. Tapi pesona fisik bukan hanya tampang. Ialebih ditentukan oleh aura yang dibentuk dari gabungan antarakepribadian bawaan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Ketiga hal itubiasanya termanifestasi pada garis-garis wajah, senyuman dan tatapanmata serta gerakan refleks tubuh kita. Itu yang menjelaskan mengapasering ada lelaki yang tidak terlalu tampan tapi mempesona banyakwanita. Begitu juga sebaliknya.Itu jalan tengah yang bisa ditempuh semua orang sebagai pencintapembelajar. Karena pengetahuan dan pengalaman adalah perolehan hidupyang membuat kita tampak matang. Dan kematangan itulah pesonanya.Sebab, setiap kali pengetahuan kita bertambah, kata Malik bin Nabi,wajah kita akan tampak lebih baik dan bercahaya. Disadur dari : Tarbawi Edisi 124 Th. 7/Dzulhijjah 1426 H/19 Januari 2006 M

No comments: