Thursday, May 31, 2007

Babak Pertama Berakhir Sudah

Assalamua’laikum Wr.Wb

Dengan berakhirnya minggu ini, maka berakhir juga UAS babak pertama gw di Fasilkom untuk semester ini. Hmmm…kenapa disebut babak pertama ya? Alasannya sederhana ko’ karena emang Zaman-zamannya UAS di kampus kan Cuma 2 minggu, dan gw mempartisinya menjadi 2 babak. Buat yang belum tahu jadwal UAS gw di Fasilkom, biar lebih nyambung gw tulisin jadwalnya di sini :

Babak Pertama :

Senin, 28 Mei 2007 : KalkulusI

Rabu, 30 Mei 2007 : Pengantar Organisasi Komputer

Babak Kedua :

Senin, 4 Juni 2007 : DPBO (Ujian Tulis)

Rabu, 6 Juni 2007 : DPBO (Ujian Pemrograman)

Kamis, 7 Juni 2007 : Matematika Diskret II

Jum’at 8 Juni 2007 : Agama Islam

Yup,tulisan pertama di bulan Juni ini menandakan berakhirnya pekan pertama UAS semester ini. Yah, walaupun yang berkurang setengahnya itu Cuma periodenya doank. Hehehe… Cukup,cukup, sekarang mari kita Flash Back ke hari-hari sebelumnya.

Senin,28 Mei 2007

Hmmm, Kalkulus I ya ! sejujurnya mata kuliah ini adalah yang paling misterius di semester ini. Lho Ko’..!!! Karena selama ini gw sendiri ga’ tau nilai-nilai kalkulus gw itu nasipnya gimana. Hehehe,,,sebabnya emang karena nilai-nilai Quiz dan UTS kemarin ga’ ada satupun yang gw tau nilainya (karena emang ga’ dibagiin). Tapi ga’ buta-buta amat sih, karena Ibu Kasiah udah pernah menjelaskan tentang sistem penilaiannya jadi paling engga’ “Sedikit” berbayang.

Ternyata, UAS kemaren….Soalnya Susah. Hehehe.. Subhanallah, soal kalkulus ini tidak bisa dikerjakan jika tidak mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki….Untungnya bobot total soalnya 120, jadi bisa dibilang ada bonus 20% dari nilai 100. Yah, sudahlah, sudah berikhtiar tinggal tawakal.. Oiya, setelah UAS kalkulus selesei, gw dan teman-teman 2006 mencoba menghibur diri dengan maen Bola di BalaiRung. Lumayan lah puas membantai lawan 10-2. Mencetak 4 dari 10 gol cukup untuk sekedar Refreshing. hehehe..

Rabu, 30 Mei 2007

Hari ini waktunya UAS POK, berbeda dengan kalkulus kemaren yang sebelumnya ga’ punya dendam pribadi sama mata kuliah itu. Hari ini gw bertekat untuk “balas dendam” terhadap POK setelah UTS kemaren nilai gw kurang begitu memuaskan. Oiya hari selasanya bisa dibilang gw belajar abis-abisan seharian penuh, dari selasa pagi sampe rabu paginya. Hehehe… Yah pada akhirnya gw emang mendapatkan keuntungan besar dari setelah berjuang seharian, dibanding Kalkulus kemaren gw lebih menikmati soal UAS POK ini. Tapi parahnya, ternyata gw baru menyadari kalo UTS kemaren itu tidak terlalu sulit juga. Tapi gw ga’ menyesal ko’, mengambil hikmah adalah pilihan terbaik dalam menutupi penyesalan. Kalau UTS kemaren bagus kan, mungkin gw ga’ akan belajar seserius ini. Paling tidak dari situ gw diingatkan kembali bahwa kerja keras diperlukan untuk mendapatkan sesuatu yang besar.

Yup agaknya segitu dulu untuk hari ini,

Ada sedikit Tausiah nih :

“Tulislah setiap Kesusahan dan kesedihan di atas pasir, biarkan angin keikhlasan membawa jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. La Takhof Wa La Tahzan”

Wassalam..

Sesuatu Yang Baru

Lho, ko' judulnya gitu ya'??
Ya mungkin bagi beberapa orang yang baru mengunjungi blog ini masih kurang 'ngeh' dengan judul di atas...
Tapi bagi yang sudah cukup sering berkunjung, atau minimal pernah melihat blog ini sebelumnya pasti sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dijumpai di sini...
Yup Betul, Blog ini sudah berganti wujudnya, dari yang dulunya didominasi oleh warna hitam kini berganti menjadi Putih dan Hijau...
Yah sebenarnya siyh, ga' ada alasan khusus kenapa mengganti tampilannya, tapi yang jelas semua itu untuk keadaan yang lebih baik lagi. (apaan seh?)

Hehehe....Udah,udah....
Ko' suram amat pembicaraan ya'....
ya' mungkin saat mengetikkan tulisan ini, gw lagi ga' ada ide untuk ngomong apaan...
maklum, seharian merombak Blog ternyata melelahkan juga...
(ini tulisan pertama di tampilan yang baru lowh)
Oiya, sedikit berbagi cerita, sebenarnya siy gw baru-baru ini aja bertekat menulis-menulis Blog ini lagi mungkin karena sekarang komunitas Penguna Blog udah banyak, apalagi teman-teman seangkatan gw sekarang juga udah pada mengenal Blog...

Satu lagi yang cukup memotivasi gw untuk kembali "mengurusi" blog ini, tidak lain karena tekad untuk melatih sense dan skill gw dalam urusan tulis menulis...
Karena tulisan ini akan gw jadikan sebagai langkah awal untuk merubah Kehidupan Blog gw yang dulunya suram (dengan warnanya yg item-item kaya tikus selokan)
menjadi lebih cerah bersinar....Jreng,,Jreng,,Jreng,,,

Monday, May 14, 2007

Dakwah tidak dapat dipikul orang manja

Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.


Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.

Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)

Wahai ikhwah kekasih Allah swt.

Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan. Wallahu’alam.

Luasnya Neraka

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.:
"Mengapa aku melihat kau berubah muka?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya."
Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam."
Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api.
Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?" Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: iaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?"
Jawab Jibrail:

"Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir."

Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya:
"Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?"
Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat."

Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: "Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?"
Jawabnya: "Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."
Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab "Peringatan Bagi Yg Lalai")

Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku.

Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:
1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua.Wallahua' lam.

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterang an dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk.
Al-Quran Surah Al- Baqarah Ayat 159

Dari Abdullah bin 'Amr R.A,
Rasulullah S.A.W bersabda:" Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..
--

Wednesday, January 31, 2007

Ketika Cinta Berbuah Surga

Di tanah Kurdistan , ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca Al-Quran. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Si kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada orang yang memutuskannya.

Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang dirasakan anaknya.


Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”

Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
“Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.

“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaiumu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”

“Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.

Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah kemudian apa yang mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga buitr telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”

Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.

Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.

Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”

Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.

Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.

Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia menunggu waktu yang lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.

“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum.” Kata Said seraya meletakkkan piring itu di atas meja.

Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Ia kaget.

“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?”
“Ya, habis aku lapar sekali.”

Melihat hal itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.

Said merasa jengkel kapada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.

****
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.

Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan.

Selesai salat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?”

“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”

Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.

Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”

Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.”

“Baiklah kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman yang seia-sekata.”

Said menyepakati syarat yag diajukkan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.

Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.

Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya, sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.

Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa dijadikan obat, serta yang beracun.

“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.

Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.

Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.

“Pergilah ke ibu kota , berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana . Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata Said sambil tersenyum.

“Insya Alloh aku akan datang.” Jawab anak pencari kayu itu.

*****
Pagi harinya, anak pencari kayu sampai juga di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.

Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu. Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.

Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.

Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebitur telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau….?

Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.

Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata. “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”

Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Alloh swt.

Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.

Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.

Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering malakukan shalat tahajud dan membaca Al-Quran bersama. Kecerdasaan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya.--- baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.---

Dikutip dari sebuah karya Habiburrahman El Shirazy

Tahun Baru



Tahun Baru adalah saat yang tepat untuk mengintrospskesi diri, merenungi dan merefleksi diri bahkan juga umat ini. Kita renungkan apa yang hingga kini telah dicapai oleh kita umat Islam setelah kejatuhannya yang kedua pada tahun 1924 M yang lalu. Apa yang telah kita perbuat dan perjuangkan untuk kembali meniti jalan kebangkitan Islam menyongsong kejayaannya yang gemilang.

Ikhwah fillah sekalian, kita akan selalu ingat bahwa Rasulullah telah menjanjikan kepada umat ini berbagai kemenangan. Rasulullah pernah memberikan sinyalemen masa depan : "Suatu saat nanti umatku akan mampu menaklukkan Konstantinopel (Byzantium, Romawi Timur). Sebaik-baik pasukan adalah pasukan pada saat itu. Dan sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pada saat itu. Umatku juga akan menaklukkan bangsa Rum (Romawi Barat : Eropab dan Amerika)." Sahabat bertanya : "Yang manakah yang akan kita taklukkan terlebih dulu, ya Rasul?" Rasul menjawab : "Negerinya Heraklius (Konstantinopel) yang akan terlebih dulu kita taklukkan!"
Dan kita lihat sebuah fakta ikhwah fillah sekalian, bahwasannya Konstantinopel takluk oleh seorang pemuda muslim Sulthan Muhammad al Fathih II tahun 1453 M pada usianya yang baru 23 tahun! Maka beliau bersama pasukannya saat itu telah membuktikan janji kemenangan yang telah Rasulullah berikan! Rentang masa Rasulullah dengan pembuktian janji itu sekitar 7-8 abad lamanya.

Dan ikhwah fillah sekalian, masa yang kini kita hidup di dalamnya adalah masa yang berada dekat pada siklus kedua pembuktian janji itu. Kita berada pada masa yang sangat dekat dengan abad-abad kemenangan! Berarti, penaklukkan bangsa Rum (Eropa dan Amerika) sepertinya tidak lama lagi! Dan janji Rasulullah juga pasti akan terbuktikan! Dan kita sangat mengharapkan bahwa penaklukkan ini adalah penaklukkan damai, bukan peperangan. Islam yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah adalah Islam yang damai dan sangat membenci peperangan. Namun bukan berarti kita mengingkari perang jika ternyata kondisi mengharuskan kita untuk berperang. Kita perhatikan bahwa perang-perang yang ada pada masa rasulullah adalah perang-perang defensif. Posisi umat Islam pada saat itu berada pada posisi bertahan. Artinya, umat Islam yang diserang terlebih dahulu. Kita lihat Perang Badar, Uhud, Khandaq (Ahzab) akan kita temukan fakta ini! Setelah Perang Tabuk, Rasulullah berkata kepada para shahabat : "Mulai hari ini, mereka (kaum kafir) tidak akan lagi menyerang kita, kitalah yang akan menyerang mereka." Dan kita akan lihat fakta bahwasannya posisi ofensif (menyerang) yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan penyerangan militer tapi justru sebuah "jalan damai" yaitu dengan sebuah Perjanjian Hudaibiyyah. Dan serangan ofensif setelah itu adalah jalan damai Fathu Makkah (Pembukaan kota Makkah).

Ikhwah fillah sekalian, mengapa umat yang dididik (tarbiyyah) oleh Rasulullah mampu menjadi pemimpin dunia. Mereka pada awalnya adalah orang-orang gurun, ada juga yang badui. Mereka bodoh dan terbelakang. Kebanyakan mereka adalah para penggembala. Tapi ikhwah sekalian, suatu kekuatan besar telah merasuki jiwa-jiwa mereka. Dan jiwa-jiwa itulah yang mampu menghantarkan Islam hingga ke segenap penjuru dunia. Islam pun memimpin dan melayani dunia dengan implementasi ajarannya yang mulia. Hingga kita pun merasakannya.

Ikhwah fillah sekalian, jumlah sahabat yang terbina saat hijrah dari Madinah ke Makkah saat Fathu Makkah adalah sekitar 120 orang. Ketika terjadi peristiwa Fathu Makkah, maka umat Islam pun menjadi sekitar 120.000-an orang. Dan kini kita saksikan bahwa jumlah total umat Islam sedunia ada sekitar 1,2 milyaran orang!

Ikhwah fillah sekalian, Rasulullah juga pernah memberikan kabar gembira : "Telah diperlihatkan kepadaku bahwa umatku akan berkuasa dan memimpin dunia dan wilayah umatku itu terbentang dari Timur hingga Barat. Wilayah itu dihimpunkan hingga aku melihat ada warna merah dan putih."

Yang pasti warna merah-putih dalam hadits ini tidak ada kaitannya dengan warna bendera Indonesia. Tapi ikhwah fillah sekalian, saya seperti merasa bahwa merah-putih itu adalah kita umat Islam di bumi Indonesia! Kita lihat faktanya bahwa Indonesia adalah negeri dengan jumlah muslim terbesar di seantero jagat. Kita juga akan terhenyak dan sadar ketika seorang Ulama Internasioanl Syaikh Yusuf al Qaradhawy menyatakan bahwa kami (umat Islam di Timur Tengah khususnya, di belaha dunia yang lain umumnya) butuh sosok pemersatu. Dan beliau sangat mengharapkan bahwa sosok itu adalah umat Islam di bumi Indonesia ini! Kami, kata beliau, sangat butuh sosok yang akan memimpin dunia Islam. Dan sekali lagi, ikhwah fillah sekalian, mereka sangat mengharapkan sosok itu adalah kita; kaum muslimin di bumi nusantara!

Bagaimana dengan kita ikhwah fillah sekalian!? Kita sangat sadar bahwa kita umat Islam di Indonesia sedang terjangkit virus "Mulim Paradox". Yaitu suatu kondisi di mana ada paradox (pertentangan) antara entitas Islam dengan entitas Muslim-nya. Ibaratnya seperti Langit dan Sumur! Islam itu langit dan umat Islam itu sumur! Islam mengajarkan keshalihan, tapi faktanya banyak kita yang tidak shalih. Islam mengajarkan kejujuran, tapi faktanya yang koruptor kebanyakn orang Islam. Islam sangat menganjurkan kepedulian terhadap kondisi umat, tapi faktanya banyak di antara kita yang egois dan apatis. Islam sangat memerintahkan tentang penguasaan IPTEK, tapi kita malah terjangkit penyakit kebodohan. Islam sangat memerintahkan kita untuk kuat dalam segala hal (politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb), tapi faktanya kita lemah dalam itu semua!

Lalu bagaimana solusinya ikhwah fillah sekalian? Tak ada jalan lain selain "mendekatkan" Islam yang langit dan umat Islam yang sumur akan menggapainya! Dan jalan itu adalah jalan tarbiyyah di segala bidang! Jalan pembinaan dan pendidikan! Secara utuh dan sesuai dengan manhaj Rasulullah tentunya!

Dengan jalan tarbiyyah itu, kita umat Islam Indonesia akan mampu melahirkan para khalifah (pahlawan mukmin) yang akan mengemban amanah kemenangan dan kejayaan! Karena itu, berbuatlah yang banyak dan terarah agar terlahir manusia-manusia muslim Indonesia yang berderajat khalifah! Dan hal ini harus dimulai dari diri kita sendiri. Maka, jadikanlah diri kita seorang khalifah. Dan akan lahir ribuan bahkan jutaan khalifah-khalifah yang lain! Dan untuk menjadi seorang khalifah, tidak perlu menanti tegaknya Asy Syri'ah! Tidak perlu menanti datangnya Sang Mesiah! Tidak perlu menanti tegaknya Al Khilafah!

Karena itu ikhwah fillah sekalian, jadilah khalifah mulai saat ini! Dan sambutlah momen Tahun Baru Muharram ini dengan JIWA BARU! Dengan RUH BARU! Dan dengan SEMANGAT BARU!!!

SELAMAT TAHUN BARU 1428 HIJRIYYAH....

dari : my-alazka.com

Tuesday, October 24, 2006

Maaf


M
emaafkan,,,bukan bagaimana kita mendengar untaian kata-kata maaf yang terangkai indah, tetapi bagaimana kita dapat memahaminya. Memaafkan bukan bagaimana kita mampu melupakan suatu hal, melainkan bagaimana kita mampu untuk mengikhlaskannya....

Taqabalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum...

Yup!! Bulan Syawal telah tiba sekaligus mengantarkan kepergian Ramadhan tahun ini...
Semoga Allah masih mencukupi umur kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan" berikutnya..

Saturday, October 07, 2006

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan ?


A
pakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini...

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?". Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Prof, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Prof, dingin itu tidak ada!" Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada." Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap itu juga tidak ada." Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak bisa kita pelajari. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya." Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Prof. Kajahatan itu tidak ada." Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.


* Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


[dari my-alazka.com >> ukhuwah.or.id]